copy rights PT Access One Indonesia, 2013
Sinopsis Buku


The Success Principles – Jack Canfield
Saya sudah lama diberitahu akan buku bagus ini, tapi selalu ada penolakan dalam diri
saya untuk membeli dan membacanya. Satu-satunya alasan adalah tebalnya 654
halaman! Alasan yang sepertinya logis dan saya yakin anda juga setuju.Jack Canfield
adalah co-author Chicken Soup for the Souls yang best sellers di seluruh dunia
termasuk di Indonesia. Saya semula agak ‘berat-hati’ mulai membaca buku ini, tapi
begitu saya selesai membaca Prinsip 1 – Bertanggung Jawab 100% atas Kehidupan
Anda, saya langsung terpesona. Gaya bahasanya sangat enak, runtut dan jelas serta
ringan. Sangat mudah dipahami ( meskipun sangat paradoks kalau melihat tebal
bukunya). Pada bab ini, Jack menuliskan pengalaman pribadinya bekerja untuk
Clement Stone, seorang jutawan pada tahun 1969, yang bertanya pada Jack,” Apakah
kamu pernah menyalahkan orang lain atas kejadian apapun dalam hidupmu? Apakah
kamu pernah mengeluh tentang sesuatu?” Ketika Jack terpaksa harus menjawab
pernah, Clement Stone langsung melanjutkan,”Itu berarti kamu tidak bertanggung
jawab 100% atas kehidupan kamu. Bertanggung jawab seratus persen berarti kamu
mengakui bahwa kamu menciptakan semua yang terjadi pada dirimu. .....Jika kamu
ingin sukses maka berhentilah menyalahkan orang lain dan mengeluh...”
Jack juga mengungkapkan rumus suskes E+R = O (Event + Response = Outcome). Jika
terjadi sesuatu pada diri anda, maka bagaimana anda meresponnya akan
menghasilkan sesuatu, bisa baik bisa buruk. Peranan kita mersepon sesuatu kemudian
menjadi sangat penting. Karena seringkali kita tidak bisa menolak sebuah peristiwa
yang datang pada kita. Jika belum membaca buku ini, segeralah ke toko buku.
Kearifan Timur oleh Jusuf Sutanto
Ini adalah buku baru terbitan Penerbit Buku Kompas Juli 2007 lalu. Bersampul merah
dengan huruf Kanji, sekilas buku ini sepertinya akan mengulas Kearifan Timur dari
sudut pandang Tionghoa semata, tapi buku ini ternyata juga mengulas beberapa
kearifan lain seperti India dan membandingkannya dengan kearifan Barat yang
menurut Jusuf tidak perlu dipertentangkan, namun akan saling melengkapi karena
memang cara memandangnya cukup berbeda.
Jusuf memberi contoh kedokteran Barat akan menelaah tubuh kita per bagian tubuh
secara sangat spesialis, apakah itu otak, jantung, paru-paru kita. Tapi kedokteran Timur
akan cenderung menelaah secara holistik berdasarkan titik-titik tertentu dalam tubuh
yang saling bertautan satu sama lain. Tapi dalam beberapa hal kearifan Timur dan
Barat juga sama seperti contohnya jika seseorang baru belajar silat selama 2 tahun dia
akan merasa sangat jago dan ingin mempertontonkan kehebatannya. Tapi sesudah
belajar silat selama 20 tahun, orang itu akan menyadari betapa ilmu yang dimilikinya
masih sangat terbatas. Socrates mengatakan dengan sangat indah “Puncak ilmu
pengetahuan adalah bukan saya tahu bahwa saya tahu, tetapi saya tahu bahwa saya
tidak tahu.”
Sejujurnya saya menjadi sangat tertarik mempelajari huruf Kanji. Jusuf membawa saya
pada sebuah contoh yang sangat menarik, bagaimana kata pintar dalam huruf Kanji
dibuat, yaitu gabungan antara 4 suku kata dan 2 suku kata. 4 suku kata pertama yang
digabungkan adalah kata-kata kuping, mata, mulut dan hati. 2 suku kata yang
digabungkan berikutnya adalah matahari dan bulan. Jadi secara harafiah pintar sama
dengan kuping+mata+mulut+hati dan matahari+bulan atau dibaca secara lebih
dalam pintar sama dengan mendengar dan melihat serta memasukkan dalam hati
siang dan malam. Mempesona sekali.
Kalau anda keranjingan membaca buku The Secret-nya Rhonda Byrne yang
mengatakan alam semesta dan kita saling terkait satu sama lain dengan ”The Law of
Attraction” maka Seng Cao pada tahun tahun 384-414 mengatakan ”Langit, bumi dan
aku berasal dari akar yang sama; ribuan makhluk di dunia dan aku terbuat dari bahan
yang satu.....” Dalam skala yang berbeda kearifan India (Hindu) mengatakan ”Alam
semesta adalah Tuhan yang sedang bermain petak umpet dengan dirinya sendiri...
Sang Tunggal lenyap menjadi Jamak, lalu Jamak kembali ke asalnya menjadi
Tunggal.” (halaman 95).
Di kelas saya sangat suka mendiskusikan kearifan lokal kita yaitu Budaya Untung.
Mungkin anda pernah mendengar seseorang yang tertimpa kemalangan akan
mengatakan ”Untung masih ada.....” Banyak sekali pemikir Barat yang mengatakan agar
kita fokus pada positive thinking dan belakangan juga positive feeling dan berani hanya
berfokus pada hal itu. Kearifan untung adalah kearifan khas kita, yang melihat sesuatu
dari kacamata berbeda yaitu memfokuskan diri pada sisi baik dari sebuah kejadian.
Banyak kearifan lokal yang sering kita abaikan dan kita ganti dengan kearifan
internasional yang memang dikemas lebih menarik dan populer lengkap dengan
berbagai macam buku, film, asesoris serta seminar-seminar yang menyertainya.
Kearifan lokal Indonesia juga sangat kaya dan sering kita lupakan....
Ingin melanjutkan sinopsis berikutnya?
