copy rights PT Access One Indonesia, 2008
The Selling Secret (1)

Judul kali ini akan merupakan serial yang saya siapkan. Rahasia menjual yang akan mengubah
hidup anda selamanya, yang akan memperkaya kehidupan anda, tidak hanya secara materi tapi
juga emosi. Kebetulan beberapa kelas Access One dalam satu bulan ini sangat memperkaya kami
sebagai fasilitator dan menemukan banyak sekali ide-ide yang selama ini disimpan masing-masing
orang.

Hal menarik lain yang juga kebetulan adalah kami memperoleh pinjaman sebuah buku dan film
berjudul The Secret yang dikarang oleh Rhonda Byrne sewaktu diundang dalam kelas
accelerating sales di Bandung belum lama ini. Rhonda merangkum pendapat beberapa pakar, di
antaranya pakar Quantum Physics tentang sebuah hukum yang bernama the law of attraction.  
Menurut hukum ini, seluruh universe termasuk kita dipengaruhi oleh ‘ketertarikan’, seperti magnet.
Everything is created twice, pertama di pikiran kita dan kemudian menjadi nyata. Jadi apapun
yang kita pikirkan akan ‘menarik’ universe untuk mewujudkannya. Semakin kuat kita pikirkan,
semakin kuat pula kemungkinannya terwujud. Rhonda memberikan beberapa contoh, tapi salah
satunya pernah di alami oleh teman saya. Teman saya ini membaca sebuah buku di airport dan
sangat tertarik dengan buku itu, tapi tidak membelinya. Tidak berapa lama, buku itu dihadiahkan
oleh seseorang padanya. Menakjubkan?

The Selling Secret pertama yang akan saya presentasikan untuk anda adalah DECISION. Ya,
keputusan. Segala sesuatu yang anda pikirkan, yang anda inginkan akan tetap menjadi hanya
sekadar keinginan dan pikiran belaka. Banyak yang mengatakan pada saya, betapa inginnya
mereka memiliki sebuah rumah. Mereka sering berpikir untuk tidak lagi mengontrak dan betapa
indahnya punya rumah sendiri. Dalam sebuah kelas, salah seorang peserta mengatakan pada
kami, dia sangat ingin mencapai target yang diberikan, tapi tidak mungkin tercapai karena sudah
merupakan hari terakhir di bulan itu. Kita seringkali berpikir untuk meraih sesuatu dan sangat
menginginkannya, tapi lupa satu hal: kita belum memutuskannya! Jika anda bilang tidak mungkin,
sudah jelas anda sudah memutuskan tidak akan mendapatkannya. Jika anda bilang ragu-ragu,
ya.....anda juga akan bimbang melangkah atau tidak. Jika anda sangat mantap dengan sesuatu,
anda tinggal melakukan hal terakhir: keputusan!

Apa hubungannya dengan rahasia menjual? Sederhana saja, apakah anda akan mencapai target
bulan ini atau tidak anda yang memutuskannya! Anda bilang ragu, sudah jelas anda memutuskan
apa, yaitu tidak akan mencapainya. Jika anda menghadapi seorang prospek, keputusan juga ada
di tangan anda. Kenapa? Karena jika anda sudah memutuskan, maka anda akan melakukan
segala upaya untuk memastikan anda berhasil dengan prospek ini. Tidak akan ada kata gagal. Apa
yang ada dalam pikiran anda, yaitu keputusan tadi akan mengalir keluar dalam bentuk ucapan-
ucapan anda, sorot mata anda, bahkan dalam jabat tangan anda. Dan hal ini akan mampu dilihat
oleh sang prospek dengan mudah: anda sangat yakin dengan produk anda dan sangat percaya diri
bahwa produk anda adalah solusi paling tepat untuk si prospek. Tidak akan ada keraguan
sedikitpun! Karena anda sudah memutuskannya!

Sulitkah membuat sebuah keputusan? Seringkali tergantung pada situasi sales yang anda hadapi.
Semakin sulit sebuah situasi sales biasanya
fear factor yang keluar: ”Aduh, sepertinya account ini
sulit, mintanya macam-macam yang belum tentu bisa dipenuhi dan orangnya juga sulit diajak
ngobrol.” Maka  umumnya keputusan yang anda ambil adalah:” Yahh, kita coba saja deh, berhasil
OK, nggak berhasil juga tak apa-apa.” Kisah selanjutnya anda sudah bisa menebak, anda tidak
akan memperoleh account itu karena anda sudah memutuskannya untuk ragu-ragu.
The Selling Secret (2)
Mengirimkan Emosi Nyaman
Pernahkah anda melihat dan merasakan teman anda datang ke kantor dalam kondisi sangat cerah
suatu pagi?  Dia tersenyum pada semua orang, dan menyapa hangat teman-temannya. Jika anda
termasuk salah satu yang disapa, apa yang anda rasakan? Terlepas dari kondisi
mood anda,
umumnya anda juga akan merasakan kehangatan yang sama. Anda mungkin akan ikut tersenyum
dan merasakan suasana cerah juga.

Apa yang kira-kira membuat anda ikut tersenyum dan merasakan kehangatan teman anda? Ya,
karena teman anda lah yang memberikan kehangatan itu dan anda menerimanya. Demikian juga
jika bos anda marah-marah, sering kali anda ikut merasa tidak nyaman. Reaksi kita sering kali
sangat ditentukan oleh emosi orang-orang di sekitar kita. Hanya sedikit orang yang mampu
mengontrol reaksinya tidak dipengaruhi oleh orang lain. Artinya, pelanggan atau prospek anda
sebagian besar akan juga bereaksi terhadap emosi anda!

Mari kita lihat dari sisi yang berbeda sekarang, yaitu teman anda yang cerah ceria dan menyapa
semua orang dengan hangat. Apa yang terjadi dengan teman anda? Kemungkinan besar teman
anda akan mengatakan bahwa dia sangat berbahagia karena satu dan lain hal, dan menceritakan
hal-hal itu dengan mata berbinar-binar. Artinya ada stimulus, ada rangsangan yang membuat
teman anda cerah ceria yang mampu mempengaruhi anda untuk ikut bersikap hangat juga.
Stimulus ini kemudian menjadi kunci, karena akan berpengaruh besar terhadap emosi yang
dipancarkan oleh teman anda.

Bisakah anda mengontrol stimulus yang masuk dan mempengaruhi
mood anda? Berbagai teori
mengatakan sangat bisa. Pengalaman saya juga bilang iya. Budaya kita memberikan banyak
contoh, seperti ungkapan ”untung” di beberapa daerah jika mengalami sesuatu hal yang tidak
menyenangkan. ”Meskipun kita tidak bisa berangkat jam 6 pagi, untung kita masih bisa ikut yang
jam 8.” Kita melakukan sensor terhadap stimulus yang masuk dengan melihat sisi berbeda yaitu ”
untung”, bukan memfokuskan diri pada hal tidak menyenangkan yang kita terima.

Dalam sessi training selama 2 bulan terakhir saya mulai memperkenalkan efek emosi sewaktu
bertemu dengan prospek atau pelanggan. Caranya sangat mudah, sewaktu anda memasuki
gedung atau tempat pertemuan, jalanlah perlahan-lahan dan nikmati tempat itu. Rasakan hanya
kenyamanan dan kehebatan gedung atau pelanggan anda. Apakah gedungnya yang megah,
interiornya yang mewah, pelayanannya yang ramah atau nama besar dari perusahaan yang akan
anda temui. Tarik nafas panjang 2-3 kali sambil mengucapkan syukur, betapa berbahagianya anda
bisa berada di tempat itu, menjumpai orang penting dan perusahaan sebesar ini dan
tersenyumlah sesudahnya.  Penuhi rongga dada anda dengan kebahagiaan dan kenyamanan,
fokus pada
the best things yang anda jumpai di sana dan mengenyampingkan hal-hal yang
mungkin membuat anda tidak nyaman.

Hal yang kedua anda lakukan adalah mengucapkan dalam hati, betapa berbahagianya anda bisa
datang untuk membantu Bapak X atau Ibu Y yang akan anda temui persis seperti anda akan
bertemu dengan teman atau keluarga yang  sedang membutuhkan pertolongan. Pikiran anda yang
sangat tegas dalam urusan membantu ini akan mampu berdamai dengan perasaan anda untuk
juga mengatakan kalimat yang sama: ”Saya datang untuk membantu, hanya membantu.” Jika
anda mampu melakukan hal ini, menyamakan kalimat yang diucapkan pikiran dan perasaan anda,
anda persis seperti kisah teman anda yang datang ke kantor dengan tersenyum hangat dan cerah
ceria.

Banyak yang bertanya pada saya, kenapa harus membantu? Bukankah kita bertugas menjual
produk kita? Saya akan bahas lebih panjang lebar dalam edisi berikut. Tapi sebelumnya saya akan
bertanya pada anda, apa bedanya teman atau keluarga anda yang butuh pertolongan dengan
prospek atau pelanggan anda yang bersedia bertemu dengan anda? Mereka sama-sama
membutuhkan pertolongan, meski dalam tingkatan yang berbeda. Esensinya untuk anda tetap
sama,
anda datang untuk membantu

Ingin melanjutkan?